InterLink no. 70: Nantikan cerita dari AVK seluruh dunia
Dalam majalah InterLink edisi Februari kami, Anda dapat membaca beberapa proyek terbaru, inisiatif termutakhir dan wawasan bisnis kami. 17-03-2026
Memikirkan kembali air: Mengapa infrastruktur yang lebih pintar harus ditempatkan untuk menggantikan potensi yang menguap?
Baru-baru ini, saya melewati pembangkit listrik tradisional—yang kemungkinan dijalankan dengan minyak atau batubara. Sekali lagi, ini membuat saya berpikir tentang air, perihal kelangkaannya sebagai sumber daya alam.
Dari jumlah total air yang ada di planet ini, hanya 1% dari suplai air tawar kita yang layak disebut sebagai air minum. Jika 1% ini dibedah penggunaannya, sektor agrikultur dan produksi makanan mengambil 70%, industri dan produksi energi 20%, dan hanya tersisa 10% dari satu persen air tawar tadi untuk diminum oleh kita manusia.
Melihat banyaknya jumlah uapan air dari pendingin yang berasal dari lima menara pendingin yang ada di pembangkit listrik—saya rasa, hal itu membantu melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Air ini akan lenyap pada serratus tahun berikutnya sebelum kembali ke bumi melalui hujan. Apakah ini benar-benar harus dilakukan? Tidak bisakah kita menjaganya tetap ‘di tanah’ dan memperlakukannya sebagai air minum, dimana memang banyak orang yang membutuhkan air minum yang aman?
Selain itu, fakta bahwa pembangkit listrik konvensional menggunakan air tawar dalam jumlah yang sangat besar untuk pendinginan (jika tidak berlokasi di daerah pesisir) menjadi alasan yang mendukung transisi ke energi terbarukan, namun, tentu saja, itu adalah pembahasan yang berbeda. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa jika seluruh infrastruktur air di dunia dibuat ramah energi, hal itu akan menghemat 650 TWh energi bagi planet ini, yang setara dengan total kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara di Eropa.
Pembangkit listrik yang aku lewati berlokasi di bagian timur Eropa yang memiliki infrastruktur air yang tidak terlalu baik kondisinya dan memang butuh perbaikan segera. Pada salah satu kotanya, saya mengunjungi perusahaan penyedia air mereka untuk berdiskusi mengenai proyek air tak berekening (non-revenue water/NRW) dan scenario ke depannya: sebuah infrastruktur air yang bebas energi. Membicarakan ini mungkin terdengar mudah, namun kenyataannya sulit untuk diwujudkan: merenovasi jaringan distribusi dan memproduksi sendiri energi pada tempat pengolahan—harus mulai dari mana dan bagaimana caranya? Cara yang paling logis adalah mulai memperkecil celah pada jaringan distribusi, yang mana akan mengurangi pemborosan air hingga 30-40%. Hal ini akan berdampak pada biaya listrik, sebab tak perlu lagi pompa bekerja hanya untuk menyia-nyiakan air. Pada akhirnya, penting untuk memantau jaringan distribusi guna memastikan bahwa setiap masalah dapat teridentifikasi dan diperbaiki.
Merupakan sebuah kabar baik dimana ada banyak cara digital dan solusi yang tersedia, termasuk dari sisi AVK. Lebih lanjutnya dapat dibaca melalui edisi majalah kali ini.
Selamat membaca,
Michael Ramlau-Hansen
Unduh